Selasa, 01 Januari 2013

LAPORAN FISIOLOGI REPRODUKSI ORGANISME AKUATIK


I. PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

Fisiologi adalah adalah turunan biologi yang mempelajari bagaimana kehidupan berfungsi secara fisik dan kimiawi. Istilah ini dibentuk dari kata Yunani Kuna physis, "asal-usul" atau "hakikat", dan logia, "kajian". Fisiologi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan (Wikipedia, 2012).
          Fisiologi hewan air adalah Ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme dan cara kerja dari organ, jaringan dan sel dari suatu organisme (ikan sebagai hewan air). Termasuk dalam Fisiologi Hewan Air adalah Penyesuaian diri terhadap lingkungan (adaptasi), Metabolisme, Peredaran darah, Respirasi, Reproduksi dan Pengambilan makanan (nutrisi) (Zaldi, 2010).
            Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Tidak setiap individu menghasilkan keturunan, tetapi setidaknya reproduksi akan berlangsung pada sebagian besar individu yang hidup dipermukaan bumi ini. Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung kondisi lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau kondisi tertentu setiap tahun.
Ikan memiliki variasi yang luas dalam strategi reproduksi agar keturunannya mampu bertahan hidup. ada tiga strategi reproduksi yang menonjol: 1). Memijah hanya bilamana energi cukup tersedia; 2). Memijah dalam proporsi ketersediaan energi; 3). Memijah dengan mengorbankan semua fungsi yang lain, jika sesudah itu individu tersebut mati. Oleh karena itu fisiologi reproduksi sangat penting untuk diketahui karena menghasilkan banyak faedah yang baik bagi masnyarakat, mahasiswa, maupun instansi-instansi yang terkait dengan pembudidayaan ikan.
Strategi reproduksi biasanya melalui ukuran dan jumlah telur yang dihasilkan dalam hubungannya dengan kemampuan merawat telur dan anak. Satu hal yang menonjol adalh ikan yang memiliki telur-telur yang kecil biasanya memiliki jumlah telur yang besar, sebagai konsekuensi dari derajat kelulusan hidup yang rendah.
Berdasarkan strategi reproduksi yang dimiliki oleh hewan-hewan air, maka dikenal 3 tipe reproduksi yaitu: 1). Reproduksi aseksual, diaman anak yang dihasilkan tanpa penggabungan gamet, biasanya banyak dijumpai padan hewan vertebrata; 2). Reproduksi sexual dengan fertilisasi internal, umumnya dilakukan oleh hewan-hewan teristrial, dan dalam beberapa juga ikan perenang cepat; 3). Reproduksi sexual dengan fertilisasi internal, merupakan penggabungan dua gamet (sperma dan telur) diluar masing-masing tubuh masing-masing induk. Fertlisais external terjadi dimana ikan jantan dan betina berdekatan dan mengeluarkan sel telur serta sperma secara terkoordinir. Kemungkinan fertlisasi diperbesar oleh besarnya jumlah telur dan sperma yang diproduksi dalam satu kali pemijahan.

1.2. TujuandanManfaat

Tujuan dan manfaat dari praktikum fisiologi reproduksi organisme akuatik yang selama ini dilakukan adalah:
1.      Mahasiswa bisa mengenali dan mengetahui kualitas sperma dan  telur ikan patin selain itu dapat menghitung volume semen, motilitas semen dan viabilitas semen. Serta mengetahui diameter telur dan letak dari inti sel telur.
2.      Mahasiswa bisa mengetahui indeks gonad somatik (IGS), indeks hati somatik (IHS) dan indek usus somatik (IUS) dari ikan sepat siam. Serta dapat mengetahui golongan dari TKG ikan, mengetahui diameter telur ikan dan fekunditas telur ikan.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui dari perkembangan embrio dari ikan mas yang membeikan manfaat dalam proses budidaya perikanan
4.      Mahasiswa dapat mengetahui morfologi dan histologi dari testis ikan baung. Sehingga memberikan manfaat penambahan pengetahuan dari penglihatan TKG ikan secara histologi









II. TINJAUAN PUSTAKA



            Ikan adalah hewan bertulang belakang yang berdarah dingin, hidup di air, pergerakan dan keseimbangan tubuhnya menggunakan sirip dan bernafas dengan insang (Raharjo, 1980 dalam Lisa, 2009).
            Faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad ikan di daerah bermusim empat antara lain ialah suhu dan makanan.Tetapi untuk ikan di daerah tropic faktor suhu secara relative perubahannya tidak besar dan umumnya gonad dapat masak lebih cepat (Effendie, 2002).
Pemijahan ikan dipengaruhi oleh faktor eksternal (eksogenous) dan internal (endogenous). Kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap pematangan gonad akhir dan ovulasi oosit. Faktor eksternal yang mempengaruhi reproduksi yaitu pendorong dan penghambat hormon gonadotropin, gonadotropin praovulasi dan respon ovarium terhadap GtH. Sedangkan faktorek sternal yang mempengaruhi pemijahan adalah photo periode,  suhu, substrat untuk pemijahan dan hubungan dengan individu lain (faktorsosial) (Djariah, 2002).
Menurut Kesteven dalam Bagenal dan Braum (1971)  gonad yang sudah jelas bentuknya, berbentuk testes atau ovary ialah apabila individu ikan itu sudah mulai matang gonad (kelamin) berada pada tahap perkembangan I atau ke III. Akan tetapi jika masih berada pada tahap kematangan gonad 1 dan 2 masih agak suli tuntuk dibedakan bentuknya dengan mata biasa.
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsimenghasilkanselkelamin (gamet). Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan tersebut disebut testes yang berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan yang terdapat pada individu ikan betina disebut ovary berfungsi menghasi lkan telur. (Pulungan et al.,  2005).
Sumantadinata (1997) mengatakan bahwa reproduksi ikan dikendalikan oleh tiga sumbu utama, yaitu hipotalaums, hipofisa, dan gonad. Secaraalami, sistem kerja reproduksi ikan dimulai dari keadaan lingkungan seperti suhu, cahaya, dan cuaca yang diterima oleh organ perasa dan meneruskannya ke sistem saraf. Selanjutnya, hipotalamus melepasakan GnRH (gonadotropin releasing hormon) yang bekerja merangsang kelenjar hipofisauntukmelepaskanGtH (gonadotropin). Gonadotropin akanberfungsidalamperkembangandanpematangan gonad serta pemijahan.Menurut Effendi (1997) menyatakan bahwa tingkat kematangan gonad adalah tahap tertentu kematangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu memijah.
Volume air mani yang dikeluarkan oleh ikan jantan tergantung pada jenis ikan, musim dan rangsangan terhadap ikan (Kruger et.al., 1984).
Pavlosisi dan Vlad (1979) menyatakan bahwa mani ikan mas yang baik bewarna putih kekuningan, memiliki kekentalan seperti krem susu dan memiliki kisaran pH antara 6,8 – 7,6.
Hardjamulia (1978) menyatakan bahwa aspek reproduksi ikan mas jantan yang mulai matang gonad pada umur enam bulan, sedangkan ikan betina pada umur lima belas bulan. Pada daerah tropis ikan mas memijah sepanjang tahun, baik di kolam atau di tanki.
Embriogenesis ialah proses perkembangan telur sampai menjadi larva definitif. Lamanya waktu embriogenesis pada setiap spesies ikan berbeda-beda karena pengaruh faktor internal dan eksternal. Salah satu dari faktor internal ialah genetik ikan tersebut. Sedangkan faktor eksternal meliputi kualitas air, penyakit, dan ketersediaan pakan alami. Embriogenesis akan berlangsung pada saat inkubasi dimulai dari proses pembelahan sel telur (cleavage), morulasi, blastulasi, gastrulasi, dan dilanjutkan dengan organogenesis yang selanjutnya menetas.















III. METODE PRAKTIKUM


                                                  

3.1       WaktudanTempat

Adapun waktu pelaksanaan praktikum ini adalah dari tanggal 8, 12, 14 dan 15 Desember 2012 yang berlangsung di Laboratorium Balai Benih Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2       BahandanAlat

Adapun bahan dan alat yang digunakan selama dalam praktikum adalah ikan (ikan patin, ikan sepat siam, ikan mas, ikan baung), larutan transparan, larutan fisiologis, es batu, ovaprim, nampan, haemocytometer, jarum spuit, mikroskop, petri dish, pinset, object glass, cover glass, aerasi, baskom, gunting bedah, timbangan, penggaris, dan alat-alat tulis lainnya.

3.3       Metode Praktikum

Metode yang dipergunakan pada praktikum ini adalah metode langsung dimana objek diteliti dan diamati secara langsung oleh praktikan guna diambil datanya sesuai dengan prosedur kerja yang telah ditentukan pembimbing pratikum.

3.4       ProsedurPraktikum

            Prosedur dari praktikum fisiologi reproduksi organisme akuatik yang selama ini dilakukan adalah:


1.      PemijahanBuatan
·         Pertama ikan baungyang telah matang gonad di striping, ketika tidak memberikan hasil pengeluaran, baik sperma ataupun ovarium. Maka gonad dari ikan jantan dan betina diambil dengan cara pembedahan.
·         Letakkan gonad ikan jantan dan gonad ikan betina secara terpisah.
·         Penentuan volume semen pada gonad jantan dilakukan dengan menggunting gonad yang telah diberikan larutan fisiologis (Nacl) sehingga semen keluar dan bisa di sedot dengan jarum spuit yang dialaskan batu es (tujuan agar sperma ikan dapat hidup)
·         Menentukan konsentrasi dan motilitas sperma ikan, dilakukan dengan cara menghisap semen spermaikan dengan pipet batu merah sebanyak 0,5, kemudian dihisap dengan menggunakan biosin hingga volume 101. Lanjut dengan melakukan pemutaran seperti angka delapan selama 5 menit. Lalu diteteskan diatas haeocytometer. Pengamatan dibawah mikroskop.
·         Penentuan diameter telur pada gonad ikan betina, dilakukan dengan cara mengeluarkan telur pada ovary ikan. Kemudian dicampur dengan larutan transparan. Kemudian amati beberapa diameter sampel telur di bawah mikroskop.
2.      Pengamatan Beberapa Data Biologi Reproduksi Ikan Yang Menunjang Keberhasilan Pemijahan Buatan
·         Ikan sepat siam ditimbang berat badannya.
·         Bedah ikan unuk mendapatkan gonad, usus dan hari
·         Timbang gonad ikan, hati dan usus secara terpisah
·         Pengamatan diameter telur ikan, dengan cara mengeluarkan telur ikan yang kemudian diletakkan pada object glass. Maka amati letak inti sel telur dibawah mikroskop.
3.      Pengamatan Perkembangan Embriogenesis
·         Ikan mas disuntik
·         Kemudian dipijahkan
·         Keluarkan telur dan sperma
·         Kemudian ditetaskan dengan meletakkan di dalam baskom yang telah berikan aerasi
·         Pengamatandilakukan 45 menit sekali untuk mengetahui perkembangan embrio ikan mas
4.      Pengamatan Histologi Testis Ikan Baung
·         Preparat dari histologi ikan baung betina
·         Amati dibawah mikroskop






IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil

            Selamapraktikumfisiologireproduksiakuatikmendapatbeberapahasilpengamatan yang dilakukan di laboratoriumbalaibenihikan, yaitu:

4.1.1. Pemijahan Buatan

·         Volume semen (ml)                 = 3,0 ml
·         Konsentrasi Spermatozoa       = 7.750.000 sel/ml
·         Motilitas spermatozoa             = kamar 1        40/154 ×100% = 25,9 %
= kamar 2        52/168 ×100% = 30,9 %
= kamar 3        45/147 ×100% = 30,6 %
= kamar4         46/131 ×100% = 35,1 %
= kamar5         50/135 ×100% = 28,5 %
·         Viabilitas spermatozoa            = kamar 1        54/154 ×100% = 33,7 %
= kamar 2        72/168 ×100% = 42,8 %
= kamar 3        50/147 ×100% = 34,0 %
= kamar 4        45/131 ×100% = 34,3 %
= kamar 5        53/175 ×100% = 30,2 %
·         DIAMETER TELUR
1.      10/4 × 0,01 × 60 = 1,5 µm    ( intitelurberadaditengah )
2.      10/4 × 0,01 × 55 = 1,37 µm  ( intitelurberadaditengah )
3.      10/4 × 0,01 × 70 = 1,75 µm  ( intitelurberadaditepi )
4.      10/4 × 0,01 × 60 = 1,5 µm    ( intitelurberadaditengah )
5.      10/4 × 0,01 × 60 = 1,5 µm    ( intitelurberadaditengah )
6.      10/4 × 0,01 × 55 = 1,37 µm  ( intitelurberadaditengah )
7.      10/4 × 0,01 × 55 = 1,37 µm  ( intitelurberadaditengah )
8.      10/4 × 0,01 × 60 = 1,5 µm    ( intitelurberadaditengah )
9.      10/4 × 0,01 × 50 = 1,25 µm   ( intitelurtidakdampak )
10.  10/4 × 0,01 × 58 = 1,45 µm   ( intitelurberadaditengah )
11.  10/4 × 0,01 × 50 = 1,25 µm   ( intitelurtidakdampak )
12.  10/4 × 0,01 × 47 = 1,25 µm   ( intitelurberadaditengah )
13.  10/4 × 0,01 × 62 = 1,55 µm   ( intitelurberadaditengah )
14.  10/4 × 0,01 × 63 = 1,58 µm   ( intitelurberadaditengah )
15.  10/4 × 0,01 × 61 = 1,53 µm   ( intitelurberadaditengah )
16.  10/4 × 0,01 × 64 = 1,60 µm   ( intitelurberadaditepi)
17.  10/4 × 0,01 × 68 = 1,70 µm   ( intitelurberadaditepi)
18.  10/4 × 0,01 × 68 = 1,70 µm   ( intitelurberadaditepi)
19.  10/4 × 0,01 × 50 = 1,25 µm   ( intitelurberadaditepi )
20.  10/4 × 0,01 × 56 = 1,40 µm   ( intitelurberadaditepi )
Rata-rata diameter telur = 1,46 µm.

4.1.2. Pengamatan Beberapa Data Biologi Reproduksi Ikan Yang Menunjang Keberhasilan Pemijahan Buatan


Indeks Gonad Somatik= Berat gonad ÷ berattubuh × 100 %
                                                = 0,32 gr ÷ 8,78 gr × 100 %
                                                = 3,64 %
Indeks Hati Somatik    = Berathati ÷ berattubuh × 100 %
                                                 = 0,22 gr ÷ 8,78 gr × 100 %
                                                 = 2,50 %
Indeks Usus Somatik   = Beratusus ÷ berattubuh × 100 %
                                                 = 0,46 gr ÷ 8,78 gr × 100 %
                                                 = 5,23 %
            Fekunditas = 83 butir × 2,90 = 240,7 butir atau 241 butir    
·         DIAMETER TELUR
1.      10/4 × 0,01 × 30 = 0,75 µm   
2.      10/4 × 0,01 × 28 = 0,7 µm 
3.      10/4 × 0,01 × 28 = 0,7  µm 
4.      10/4 × 0,01 × 20 = 0,5 µm  
5.      10/4 × 0,01 × 30 = 0,75 µm   
6.      10/4 × 0,01 × 29 = 0,72 µm 
7.      10/4 × 0,01 × 29 = 0,72 µm
8.      10/4 × 0,01 × 22 = 0,55 µm
9.      10/4 × 0,01 × 29 = 0,72 µm
10.  10/4 × 0,01 × 23 = 0,57 µm 
11.  10/4 × 0,01 × 30 = 0,75 µm
12.  10/4 × 0,01 × 35 = 0,87 µm
13.  10/4 × 0,01 × 20 = 0,5 µm 
14.  10/4 × 0,01 × 34 = 0,85 µm
15.  10/4 × 0,01 × 25 = 0,62 µm
16.  10/4 × 0,01 × 32 = 0,8 µm
17.  10/4 × 0,01 × 18= 0,45 µm
18.  10/4 × 0,01 × 32 = 0,8 µm 
19.  10/4 × 0,01 × 28 = 0,7 µm
20.  10/4 × 0,01 × 27 = 0,67 µm
Rata-rata diameter telur = 0,68 µm

·         PENGAMATAN MORFOLOGI TELUR
Telur ikan sepat siam adalah berada dalam golongan TKG III karena gonad hampir mengisi setengah rongga perut. Butiran telur mulai kelihatan dengan mata telanjang.

4.1.3. Pengamatan Perkembangan Embriogenesis


Ø Perhitungan Dosis Ovaprim (Betina dan Jantan) dan Ovoposisi
Dosis ovaprim Betina = Berat tubuh ÷ 1000 × dosis
                                        = 364 ÷ 1000 × 0,7 ml
                                        = 0,25 ml
Dosis ovaprim Jantan  =Berat tubuh ÷ 1000 × dosis
                                         = 364 ÷ 1000 × 0,3 ml
                                         = 0,11 ml
Ovoposisi  = Berat total telur ÷ Berat sample telur × jumlah telur sample
          = 47,9 gr ÷ 0,2 gr × 1487 butir
                      = 356137 butir

Ø Pengamatan perkembangan embrio
·         Jam 08.00 – 08.45 WIB = Embrio belum berkembang.
Gambar 1. Embrio belum berkembang
·         Jam 09.45 – 14.26 WIB = Blastodisk sempurna.
Gambar 2. Blastodisk sempurna

·         Jam 15.10 – 19.12 WIB = Morula.
Gambar 3.  Morula
·         Jam 19.40 – 20.00 WIB = Blastula.
Gambar 4. Blastula
·         Jam 20.30 – 21.28 WIB = Gastrula.
Gambar 5. Gastrula
·         Jam 22.00 – 23.45 WIB = Perisai embrio.
Gambar 6. Perisai embrio
·         Jam 00.00 –15.45 WIB = Mulai tahap organogenesis, sudah mulai kelihatan bintikmata, ada garis-garis dibagian punggung sampai terbentuknya organ.
Gambar 7. Organogenesis
·         Jam 16.00 WIB = Telur telah menetas menjadi larva.
Gambar 8. Larva ikan

4.1.4. Pengamatan Histologi Testis Ikan Baung

2012-12-15 14.41.49.jpg

Gambar 9. Preparat TKG I
ü  Jaringan ikat terlihat lebih dominan, sel-sel spermatogonium mulai terlihat yang akan memasuki perkembangan tahap spermatogonia.
2012-12-15 14.42.40.jpg
Gambar 10. Preparat TKG II
ü  Testis berkembang ditandai dengan terlihatnya kantong-kantong tubulus semi-niferi yang berisi spermatosit primer berasal dari perkembangan spermatogonium.
2012-12-15 14.43.17.jpg
Gambar 11. Preparat TKG III
ü  Jaringan ikat testis terlihat lebih sedikit, spermatid menyebar. Sebagian masih terlindung oleh sista yang berbentuk kantong.
2012-12-15 14.45.17.jpg
Gambar 12. Preparat TKG IV
ü  Spermatid dan spermatozoa terlihat lebih jelas. Sel spermatozoa yang terbentuk mengisi kantong-kantong tubulus seminiferi.

4.2.      Pembahasan

Pada judul praktikum pemijahan buatan ikan patin yang mendapatkan volume semen sebesar 3,0 ml, konsentrasi spermatozoa 7.750.000 sel/ml, motilitas sperma pada kamar 1 sebesar 25,9 %, kamar 2 sebesar 30,9 %, kamar 4 sebesar 30,6 % dan kamar 4 sebesar 35,1 % dan kamar 5 sebesar 28,5 %, viabilitas sperma yang terdapat pada kamar 1 adalah 33,7 %, kamar 2 adalah 42,8 %, kamar 3 adalah 34,0 %, kamar 4 adalah 34,3 % dan kamar 5 adalah 30,2 %. Penentuan diameter telur memiliki rata-rata diameter telur 1,46 mm. Memiliki inti sel telur ada yang berada di tepi, di tengah ataupun malah kosong. Inti sel telur yang berada di tengah memiliki 50%, ditepi 35% dan yang kosong 15%.
Hal pengamatan beberapa data biologi reproduksi ikan sepat siam yang menunjang keberhasilan pemijahan buatan, memberikan hasil pembahasan Indeks Gonad Somatik sebesar 3,64 %, Indeks Hati Somatik sebesar 2,50 % dan Indeks Usus Somatik sebesar 5,23 %. Fekunditas telur ikan sepat siam adalah 240,7 butir atau 241 butir. Rata-rata diameter telur ikan sepat siam 0,68 mm. Morfologi gonad betina ikan sepat siam adalah berada dalam golongan TKG III karena gonad hampir mengisi setengah rongga perut. Butiran telur mulai kelihatan dengan mata telanjang.
Pengamatan embriogenesis pada ikan mas yaitu Jam 08.00 – 08.45 WIB = Embrio belum berkembang, Jam 09.45 – 14.26 WIB = Blastodisk sempurna, Jam 15.10 – 19.12 WIB = Morula, Jam 19.40 – 20.00 WIB = Blastula, Jam 20.30 – 21.28 WIB = Gastrula, Jam 22.00 – 23.45 WIB = Perisai embrio, Jam 00.00 – 15.45 WIB = Mulai tahap organogenesis, sudah mulai kelihatan bintik mata, ada garis-garis dibagian punggung sampai terbentuknya organ dan Jam 16.00 WIB = Telur telah menetas menjadi larva.
Histologi gonad jantan ikan baung, pada TKG I Jaringan ikat terlihat lebih dominan, sel-sel spermatogonium mulai terlihat yang akan memasuki perkembangan tahap spermatogonia, TKG II Testis berkembang ditandai dengan terlihatnya kantong-kantong tubulus semi-niferi yang berisi spermatosit primer berasal dari perkembangan spermatogonium, TKG III Jaringan ikat testis terlihat lebih sedikit, spermatid menyebar. Sebagian masih terlindung oleh sista yang berbentuk kantong dan pada TKG IV Spermatid dan spermatozoa terlihat lebih jelas. Sel spermatozoa yang terbentuk mengisi kantong-kantong tubulus seminiferi.
Yushinta Fujaya (2004), reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Untuk dapat melakukan reproduksi maka harus ada gamet jantan dan betina. Penyatuan gamet jantan dan betina akan membentuk zigot yang selanjutnya berkembang menjadi generasi baru.
Selama proses perkembangan gonad baik pada tahap pertumbuhan maupun tahap pematangan, gonad ikan akan mengalami serangkaian perubahan secara sitologik, histologik dan morfologik, sejalan dengan ini gonad juga akan mengalami perubahan berat dan volume dan morfologi. Biasanya indikator dalam menentukan sampai sejauh mana perkembangan yang telah dialami oleh gonad dalam proses oogenesis pada ikan betina atau spermatogenesis pada ikan jantan selalu menggunakan perubahan berat, volume dan morfologi gonad yang terjadi. Tingkat kematangan gonad tertinggi terjadi pada saat ikan akan melakukan pemijahan, pada saat tersebut telur didalam ovarium atau spermatozoa dalam testis juga akan mencapai ukuran yang maksimum (Sukendi, 2007).
Pemijahan terbagi dua yaitu total spawning dan partial spawning, dimana total spawning terdapat stadium oosit yang sama dalam satu gonad, sedangkan partial spawning terdapat stadium oosit yang berbeda-beda dalam satu gonad.
Menurut Pulungan (2005) pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan secara morfologi dan secara histologi. Pengamatan secara morphologi dapat dilakukan di lapangan dan di laboratorium, sedangkan pengamatan secara histologi hanya dapat dilakukan di laboratorium dan sangat memerlukan peralatan yang canggih serta teliti dan memerlukan dana yang cukup besar. Bila pengamatan dilakukan pada testes maka yang diamati adalah bentuk testes dan kedua sisinya, ukuran (panjang dan diameter ) testes, perbandingan panjang testes dan rongga tubuh, warnanya serta pembuluh darah pada permukaan testes. Demikian juga halnya bila pengamatan dilakukan pada ovari tetapi yang perlu diamati lagi adalah diameter beberapa butir telur.














V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan

            Keadan telur ikan patin  memberikan ikan tersebut telah matang gonad karena nilai persentasi letak inti sel telur ketepi dan ditengah yang lumayan besar. Sedangkan motilitas sperma dan viabilitas sperma ikan patin yang memiliki persentase tertentu. Pengamatan beberapa data biologi reproduksi ikan sepat siam yang menunjang keberhasilan pemijahan buatan, memiliki nilai persentase IGS, IHS dan IUS (3,64 %, 2,50% dan 5,23 %). Fekunditas telur 241 butir.sedangkan morfologi telur berada pada TKG III. Hasil Pengamatan perkembangan embriogenesis terjadi ketika pukul 16.00 WIB. Sedangkan pengamatan histologi testis ikan baung terlihat jelas perbedaannya dari TKG I sampai TKG IV

5.2. Saran

Untuk mendapatkan hasil yang baik disaat melakukan disetiap materi praktikum yang telah ditetapkan oleh asisten sebaiknya dilakukan dengan konsentrasi dan kerjasama yang baik antara sesama praktikan. Dan juga diharapkan kepada asisten agar tetap menegakkan disiplin bagi praktikan yang berjalan-jalan atau main-main selama praktikum berlangsung..




DAFTAR PUSTAKA



Djadjadiredja, R.,S. et al. 1977. Pedoman pengenalan sumberdaya perikanan. Bagian I. Direktorat jendral perikanan. Jakarta.

Hardjamula, A. 1978. Budidaya Perikanan Ikan Mas, Ikan Tawes, Ikan Nilem, SUPM Bogor. Badan Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

Kruger., J.C.D., G.I. Smith,. J.H.H. Voren and Ferreira., 1984. Some Chemical and Physical Characteristics of Sment of Cyprinus carpio L and Oreochromis mosambicus Peters. J. Fish Biology. 24:263-273pp.

Pulungan. 2004. Hand Out Kuliah Mata Kuliah Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNRI. Pekanbaru.

Povlopici, F. and G. Vlad. 1979. Some Data Preservation of Carp (Cyrpinus carpio L). Seminal Material by Freezing. Rey. Cresterea Anim. 4 (4):45-48.


Sukendi, MS. Dr. Ir. 2007. ‘Fisiologi Reproduksi Ikan’. MM Press, CV. Mina Mandiri. Pekanbaru


Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Pemeliharaan di Indonesia. Sastra Budaya. Bogor. 129 hal.


Wikipedia, 2012. Fisiologi. Diakses tanggal 3 mei 2012.


Zaldi, 2010.  Aspek Biologi Reproduksi Ikan Lele. http://zaldibiaksambas.wordpress.com. Diakses tanggal 1 mei 2012, pukul 18.15 WITA.






LAMPIRAN



Lampiran 1. Alat-alat yang digunakan selama praktikum

fi3_t4z_kh4006  
Peti dish                             Gunting bedah                             Object glass
11032009184       
       Heomocytometer                              Baskom                              Nampan
0403200917104032009170
Selang aerator                                Penggaris                                      Pena
Foto000                                    
Timbangan                                          Mikroskop

0 komentar: